Lidah Dan Kunci Keselamatan

 
Imam Turmudzi meriwayatkan hadits yang cukup panjang, bahwa pada suatu hari Mu'adz bin Jabal ra bertanya, “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku amal yang dapat memasukakkan aku ke surga, dan menjauhkan dari neraka.” Jawab Nabi SAW, “Anda telah menanyakan suatu yang besar, namun sebenarnya ringan bagi mereka yang diringankan oleh Allah SWT, yaitu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutuka-Nya dengan suatu apapun; mendirikan shalat; mengeluarkan zakat; puasa pada bulan Ramadhan; dan berhaji ke Baitullah.” Kemudian Nabi SAW melanjutkan, “sukakah Anda saya tunjukan pintu-pintu (jalan-jalan) kebaikan? Puasa itu bagaikan perisai, sedekah memadamkan dosa sebegaimana air memadamkan api. Demikian juga shalat di tengah malam.” Kemudian Rasulullah membaca ayat 16 surat As-Sajadah, “Mereka merenggangkan pinggangnya dari tempat tidur karena berdoa kepada Tuhan dengan penuh ketakutan dan harapan, dan dari rezeki pemberian Kami mereka bersedekah. Maka tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang disembunyikan Allah dari pahala yang memuaskan pandangan mata, sebagai pembalasan atas segala amal perbuatan mereka.”

Kemudian Nabi SAW bersabda, “sukakah Anda saya beritahu pokok agama, tiangnya dan puncak punggungnya?' Mu'adz mengiyakan. “pokok agama adalah Islam (menyerah bulat kepada Allah), tiangnya adalah sholat, sedang puncaknya adalah jihad (berjuang menegakkan agama Allah)”. Nabi SAW melanjutkan lagi, “sukakah Anda saya beritahu kunci dari semua itu?” Mu'adz mengiyakan lagi. Maka Nabi SAW memegang lidahnya sambil bersabda, “jagalah ini, jangan sampai membinasakanmu”. Mu'adz bertanya,” Ya Rasulullah, apakah kami akan dituntut apa yang kami bicarakan?” Nabi menjawab, “celaka kau, apakah kau kira orang akan masuk neraka karena mukanya? Tidak lain hanya hasil lidahnya”.

Jika surga diibaratkan ruangan yang besar, maka untuk memasukinya kita harus melalui pintu. Hanya mereka yang memiliki kunci yang dapat membuka pintu tersebut. Menurut hadits diatas kunci surga adalah lisan. Siapa yang dapat menjaga lisanya, maka surga bakal menjadi miliknya. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mampu memanfaatkanya secara baik dan benar, maka neraka akan menjadi tempat tinggalnya.

Satu kata atau satu kalimat yang keluar dari lisan seseorang bisa jadi merupakan faktor penentu dari keselamatanya, di dunia dan akhirat. Seseorang yang tidak memperpedulikan akibat dari perkataanya akan terjerumus kedalam neraka jahanam. Rasulullah menyampaikan hal ini dalam sebuah sbdanya: “sesungguhnya adakalanya seseorang mengatakan suatu kalimatyang tidak diperhatikanya, tiba-tiba ia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari antara timur dan barat.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Lontaran kata yang sederhana bisa membawa akibat yang luar biasa. Sudah tak terhitung berapa banyak suami istri yang akhirnya berantakan rumah tangganya hanya gara-gara ucapan. Mungkin sang suami tanpa sengaja mengolok istrinya dengan maksud bergurau, tapi si istri justru tersinggung perasaanya. Akhirnya ia marah-marah, kemudian minta cerai dari suaminya.

Ad seorang ibu yang terlilit hutang sampai tega membunuh penagihnya. Suatu pagi, sesuai dengan janjinya, si penagih datang minta kembali hutangnya. Entah sudah berapa kali ia terpaksa minta maaf karena memang tidak punya uang. Sebelum pulang, si penagih mengeluarkan kata-kata makian dan umpatan, disertai pula dengan ancaman. Karena dongkol, marah dan terluka perasaanya, sekelebat kilat wanita itu masuk kerumah mengambil sebilah pisau dan membabatkanya ke perut si pemberi hutang. Tak cukup sekali, ia ulangi sampai keluar ususnya. Benarlah kata pepatah Arab, keselamatan manusia itu terletak pada lisanya.

Menjaga lisan dari kata-kata kasar kotor keji memang tidak mudah, apalagi jika dalam keadaan emosi. Seorang yang biasanya pendiam, tiba-tiba bisa berapi-api kata-katanya. Bahkan seoarang yang tidak bisa berpidato sekalipun, bisa tampil dipodium dengan meyakinkan sekali, hanya karena dorongan amarah.

Dalam keadaan emosi, ucapan kasar yang bernada cemooh meluncur begitu saja tanpa kendali. Akibatnya bisa diduga, orang lain bisa terluka hatinya. Mereka juga ikut marah maka pertengkaran tak bisa dihindari. Berawal dari perang lisan, berakhir menjadi perang fisik . Adu inju dan adu jotos.

Kata-kata kadang lebih tajam dari pedang. Jika tak hati-hati, ia akan mengenai siapa saja yang didekatnya. Tak peduli anak, istri, saudara, bahkan mungkin bapak ibunya sendiri.

Itulah sebabnya Al-Qur'an suci mengajarkan kepada umat untuk berhati-hati jika berkata dengan ayah dan ibu. Bahkan mengucapkan kata
'ah” sudah dinilai sebagai pelecehan dan penghinaan. Apalagi membantah. Adapun mengeluarkan kata-kata kotor dan keji sudah termasuk “uququl walidain”, berani kepada orang tua, yang dosanya menempati urutan kedua setelah syirik kepada Allah SWT.

Suatu kali 'Aisyah kedatangan seorang tamu wanita. Orang tersebut dikenal baik sebagai seorang penderma. Banyak diantaranya yang menilai wanita tersebut sebagai ahli surga. Akan tetapi nabi SAW justru membuat penilaian lain, orang tersebut adalah ahli neraka. Tentu saja para 'Aisyah dan para sahabat lainya bertanya-tanya. Setelah diselidiki ternyata wanita tersebut panjang lidahnya.

Apalah arti sedekah jika dibarengi dengan kata kata yang melukai perasaan? Berapapun besarnya sedekah yang dikeluarkan, jika dibarengi dengan katt yang meyakitkan akan terhapus tanpa sisa. AL-Qur'an menggambarkanya seperti debu di atas batu licin yang ditempa hujan deras, maka batu itu kembali bersih tanpa menyisakan debu sedikitpun juga.

Allah telah berpesan agar kita tidak membatalkan sedekah dengan kata-kata kotor, dengan firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekah kamu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti {perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang seperti itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (Al-Baqarah : 254)

Alangkah ruginya jika sedekah sudah dikeluarkan, tapi ujung-ujungnya hanya berupa penyesalan. Bagaimana tidak menyesal, jika ternyata hasilnya adalah kehampaan? Bahkan bisa jadi kerugian atau kebangkrutan yang dialami oleh si penagih dalam kasus di atas.

Disatu sisi lisan bagi manusia adalah rahma yang sangat besar, tapi di sisi lain ia merupakan bahaya yang tak kurang besarnya. Dengan kemampuan berbicara seorang manusia bisa mengembangkan komunikasi hingga menembus batas-batas negara. Tugas kekhalifaan manusia tak mungkin bisa terlaksana dengan baik tanpa kemampuan bicara. Inilah alat canggih yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Biarpun kecil, tapi fungsinya luar biasa.

Sebagaimana barang canggih lainya, bila salah mengoperasikanya maka resikonya juga besar sekali. Seorang pilot yang salah menekan tombol-tombol dikokpitnya, bisa mengancam seluruh penumpangnnya. Pesawatnya bisa melesat tanpa kendali, jatuh berkping-keping ke bumi.

Rasulullah pernah menyampaikan berita ghaib kepada para sahabat, bahwa setiap pagi seluruh anggota badan manusia selalu mewanti-wanti kepada lisan. Mereka berpesan agar menjaga keselamatanya, sebab keselamatan seluruh anggota tubuh itu sangat tergantung pada lisanya. Jika lisanya jujur, maka selamat. Jika lisanya bengkok, maka berarti bahaya.

Menjaga lisan bisa berarti berhati-hati dalam bicara. Bahkan jika perlu diam,. Perlu diketahui bahwa terkadang diam itu emas. Seorang ulama yang memilih diam dalam menghadapi suatu kasus bukan berarti tidak bersikap. Justru diamnya itulah sikapnya. Itulah kebijaksanaan. “Diam itu bijaksana, tapi sedikit yang melakukanya”. (HR.Ibnu Hibban)

Menjaga lisan jua berarti membiasakan berkata-kata baik dan menghindari kata-kata buruk. Dalam keadaan bagaimana pun hendaknya seseorang membiasakan diri berkata yang baik. Ada pelajaran berharga dari Nabi Isa As. Suatu ketika ia berjalan berpapasan dengan seekor babi, maka ia berkata, “silakan berjalan dengan aman.” Seorang sahabatnya menegurnya, “Engkau berkata begitu kepada babi?” Jawabnya, “Sungguh saya takut membiasakan lidahku mengucap yang tidak sopan.”

Sumber: Buletin Al-Jami Pekalongan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar